Malam Ini Kalau Tak Pulang, Besok Aku Jadi Mayat”, Jerit Pilu Istri Korban Bank Keliling, Dapur Padam dan Dua Balita Menangis Kelaparan
![]() |
| Ilustrasi Intimidasi |
Tangerang | Sebuah pesan singkat via WhatsApp berisi firasat maut menjadi memori paling menyayat hati bagi MM. Pesan itu datang dari suaminya, PG alias Gulo, tepat sebelum nyawanya nyaris dihabisi oleh komplotan bank keliling tempatnya bekerja. Niat baik untuk mengundurkan diri secara terhormat justru dibalas dengan penyiksaan brutal selama berjam-jam, pelecehan seksual di bawah ancaman bilah pisau, hingga pendarahan hebat di otak kecil.
Saat ini, PG alias Gulo terbaring di ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUD Balaraja. Kondisinya kritis, sementara pihak keluarga kini berada di persimpangan jalan yang berat terkait rekomendasi tindakan medis dari tim dokter.
Di sudut lain Tangerang, tragedi ini menyisakan nestapa yang tak kalah memilukan. Rumah kontrakan kecil korban kini senyap tanpa asap dapur. Sembako habis, alat masak tak lagi tersentuh, dan dua balitanya terus menangis karena kehabisan susu. Sebagai tunggal tulang punggung keluarga, tumbuhnya Gulo menandakan matinya sumber kehidupan mereka.
Sambil menggendong buah hatinya, MM dengan suara bergetar menceritakan detik-detik malam mengerikan yang menimpa suaminya kepada awak media.
“Suasana berubah jadi neraka. Suami saya sempat kirim pesan WhatsApp: 'Kalau saya nggak pulang malam ini, kemungkinan besok saya sudah jadi mayat.' Tak lama setelah itu, HP-nya sudah tidak bisa dihubungi,” kenang MM dengan linangan air mata. Selasa (4/8/26).
Malam itu, lima pelaku ED Dohona, S Daeli, M Laoli, Ama Putra, dan seorang rekan lainnya berkumpul merayakan pesta minuman keras. Dalam pengaruh alkohol, mereka melancarkan aksi pengeroyokan brutal tanpa ampun kepada PG alias Gulo.
Tak cukup meremukkan fisik korban hingga berdarah-darah, para pelaku melancarkan aksi keji yang merendahkan martabat manusia. Di bawah ancaman pisau yang menempel di leher, Gulo dipaksa menanggalkan pakaiannya, menyaksikan konten pornografi, bermasturbasi, hingga dipaksa melakukan video call dengan istrinya sendiri dalam kondisi mengenaskan.
“Aksi keji itu mereka rekam pakai HP untuk dijadikan alat intimidasi supaya suami saya takut melapor ke polisi. Bayangkan, bang... harga diri suami saya diinjak-injak sampai seperti itu,” tutur MM tak sanggup membendung air matanya.
Jerit pilu MM kini memanggil nurani publik dan ketegasan aparat penegak hukum. Kasus penganiayaan berat dan pelecehan seksual ini telah secara resmi dilaporkan ke kepolisian. Namun, di tengah proses hukum yang berjalan, keluarga kecil ini bertaruh dengan waktu demi bertahan hidup dari hari ke hari.
Akankah nurani publik dan ketegasan hukum bergerak cepat menyelamatkan keluarga kecil yang kini hancur berkeping-keping ini?
(*/Red)

Posting Komentar