Bendera Putih Berkibar di Aceh Tamiang dan Pidie Jaya Tanda Absennya Negara
BANDA ACEH, -- Bendera putih berkibar di Aceh, bukan di medan perang, bukan di pos perundingan, melainkan di halaman rumah orang-orang yang hampir dua minggu terjebak banjir bandang.
Dari dataran tinggi Aceh Tengah, sepanjang Pidie Jaya, hingga Aceh Tamiang, warna putih itu berkibar seperti jeritan massal sebuah pesan telanjang kepada pemerintah: kami menyerah, kami tidak sanggup lagi menunggu negara yang tak kunjung datang.
Pada Sabtu, 13 Desember 2025, simbol universal itu berada di sepanjang jalan lintas Sumatera, dari Karang Baru hingga Kualasimpang. Ia tak bersuara, namun lebih lantang daripada ribuan laporan resmi. Sebuah “pengakuan” dari rakyat bahwa mereka tidak sedang bertahan hidup dan mereka sedang ditinggalkan.
Seorang relawan yang lima hari berkeliling menyisir daerah terdalam menggambarkan situasi dengan kalimat yang sederhana namun memilukan:
“Sama sekali tak ada sumber air bersih, baik untuk minum maupun bersuci. Listrik juga belum nyala dan banyak yang kelaparan.”
Ini bukan sekadar bencana ekologis akibat badai Senyar; ini adalah bencana pemerintahan.
Negara, Kau di Mana?
Bantuan yang datang makanan, air minum, pakaian, obat-obatan semuanya berasal dari relawan. Dari rakyat untuk rakyat. Dari kantong-kantong masyarakat yang juga tak kaya, tetapi masih memiliki hati.
Sementara itu, dari pemerintah?
Sampai hari ini, nol. Tidak tampak. Tidak terdengar. Tidak terasa.
Tri, seorang ibu warga Tamiang, berkata lirih, “Saya tidak tahu lagi harus melapor ke mana. Kami menyerah.”
Ia melanjutkan dengan kalimat yang mestinya mengguncang nurani siapa pun yang mengaku pejabat negara:
“Semua alat masak pun sudah hancur, pak.”
Di desa lain, seorang warga menatap bendera putih yang berkibar dan berkata, “Bendera putih itu tanda bahwa kami para korban sudah menyerah. Terserah pemerintah mau berbuat apa.”
Terserah pemerintah.
Bayangkan, sebuah rakyat yang dipaksa merelakan nasibnya kepada ketidakpastian karena negara absen dalam tugas paling fundamentalnya untuk melindungi warganya.
Ketika Bencana Tak Ditangani, Putus Asa Menjadi Ritual
Aceh Tamiang adalah salah satu daerah paling parah terdampak. Rumah habis, kendaraan terseret arus, sawah terendam lumpur dan kerusakan yang mustahil pulih cepat tanpa intervensi negara. Tetapi penanganan yang lambat berubah menjadi pengabaian yang nyaris sistemik.
Bendera putih itu bukan sekadar kain. Itu adalah ritual putus asa yang terpaksa dilakukan rakyat yang bertahan hanya dengan doa, niat baik relawan, dan tekad bertahan hidup.
Ironisnya, di negara yang sering memamerkan kekuatan dan ambisi geopolitik, warganya kini mengibarkan tanda menyerah hanya untuk meminta air minum, makanan, dan listrik.
Ini bukan tragedi alam semata. Ini tragedi politik.
Simbol Universal yang Kini Menampar Wajah Kekuasaan
Sejak abad ke-17, bendera putih dikenali di seluruh dunia sebagai tanda penyerahan, permintaan gencatan senjata, atau seruan untuk berdialog. Ia dihormati dalam hukum perang internasional.
Hari ini, rakyat Aceh menggunakannya bukan untuk berdamai dengan musuh, melainkan untuk menarik perhatian pemerintahnya sendiri.
Pertanyaannya: mengapa rakyat harus memakai simbol perang untuk memanggil negara agar menjalankan kewajiban damainya?
Apa yang lebih memalukan dari sebuah pemerintahan yang membuat rakyatnya harus mengibarkan bendera menyerah agar terlihat?
Bencana Senyar Mengungkap Luka Lama
Badai Senyar boleh jadi pemicu banjir, tetapi akar persoalannya jauh lebih dalam: perusakan hutan puluhan tahun, pengabaian mitigasi risiko, tata ruang yang kacau, komunikasi pemerintah yang terputus, dan koordinasi bantuan yang berantakan.
Ketika semua itu bertemu dengan sikap lamban yang menyakitkan, jadilah bencana sosial: kelaparan, penyakit, keputusasaan, dan kini, simbol penyerahan total.
Saatnya Mengatakan dengan Jelas: Ini Kegagalan Negara
Editorial ini tidak ditulis untuk menyindir, tetapi untuk menyatakan dengan tegas:
Negara telah gagal di Aceh. Dan kegagalan ini bukan sekadar soal teknis. Ini moral.
Bendera putih yang berkibar itu bukan lagi sekadar kain, ia adalah cermin rusaknya sistem tata kelola, koordinasi bencana, dan prioritas pemerintah.
Jika negara tidak segera merespons, rakyat akan mengingat momen ini sebagai titik ketika mereka tahu: Dalam krisis, mereka hanya punya diri mereka sendiri.
Satu Seruan Terakhir
Rakyat di Aceh tidak meminta istana. Tidak meminta fasilitas mewah. Mereka hanya meminta yang paling dasar: makanan, air bersih, obat, penerangan, jaminan hidup.
Jika negara masih memiliki hati, ia harus bergerak hari ini, bukan besok, bukan minggu depan.
Karena bendera putih yang berkibar itu adalah peringatan keras: ketika rakyat menyerah, negara harus malu.
Senyar boleh merobohkan rumah dan sawah, tetapi yang lebih berbahaya adalah ketika ia merobohkan kepercayaan rakyat kepada negara.
Dan bendera putih itu, berkibar diam namun bising, sedang mengatakan semuanya.(HAN)

Posting Komentar