Warga Cisoka dan Jayanti di Landa Banjir, Justru Kali Gembong Airnya Tidak Mengalir
Kabupaten Tangerang || Intensitas curah hujan yang cukup tinggi beberapa hari terakhir yang mengguyur wilayah Kabupaten Tangerang, membuat banjir di sejumlah wilayah di Kabupaten Tangerang, Sabtu (24/01/2026).
Sejumlah ruas jalan penghubung antar desa dilaporkan terendam banjir hingga sulit dilalui baik pejalan kaki maupun roda dua dan empat.
Dari sejumlah wilayah yang terdampak di Kabupaten Tangerang yakni :
1.Kp. Janur Bojong Loa (Cisoka)
2.Lebak Gedong (Jayanti))
3.Parung Ceuri (Jayanti)
4.Taman Cikande (Jayanti)
5.Kp.Cendelekan (Jayanti)
6.Kp Kaman (Jayanti)
7.Babakan (Jayanti)
Dari beberapa wilayah yang terdampak, hanya wilayah Kecamatan Jayanti untuk tiga desa yang terparah dalam terakhir ini.
Bahkan sampai menelan korban jiwa, walaupun sifatnya hanya karena kelalaian.
Petugas relawan dari berbagai unsur ikut membantu mengevakuasi korban banjir yang rumahnya terendam.
Mulai dari pihak pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa, OPD, Babinsa, Binamas ,PMI, BPBD.
Mereka berjibaku menolong warga untuk mengevakuasi ke tempat yang lebih aman untuk mengungsi.
Sumbangan datang mengalir untuk korban banjir, hingga orang nomor dua di Kabupaten Tangerang (Wakil Bupati) Intan Nurul Hikmah ikut menyambangi korban banjir di wilayah Jayanti dengan memberikan support agar warga tidak panik dan putus asa dalam situasi yang tengah dialami.
Namun dari sisi sudut lain, timbul pertanyaan menyeruak ke publik, kenapa aliran Kali Gembong airnya kecil seolah sekunder ? Sedangkan kali Cidurian seperti lautan yang sedang pasang ombak.
Apakah pintu air di Tangkele sebagi sumber pembagian aliran air ke berbagai arah sudah dijalankan dengan benar saat musim hujan tiba ?
Saat di konfirmasi pada penjaga pintu di Tangkele atas nama Ole, dia membalas via pesan WhatsApp.
"Wa alaikum salam, siap. Silahkan hub no ini saja " sambil memberikan nomor kontak atas nama Khk.
Namun sempat melakukan panggilan via WhatsApp dan terdengar, bahwa dia tidak ada kewenangan membuka dan menutup pintu air jika tidak ada perintah dari atasannya.
Saat dikonfirmasi pada Khol** , orang yang disebut pak Ole atasannya.
Khol** angkat bicara via panggilan WhatsApp.
"Itu sudah aturan dari pimpinan, kenapa air tidak dibuang ke saluran irigasi Gembong, khawatir akan menumpuk lumpur dan sampah/kayu. Intinya kami khawatir akan memperparah keadaan yang akibatnya menimbulkan kerusakan tambah luas. Sehingga kami mengontrol debit air sudah sesuai apa yang seharusnya kami lakukan" jelasnya.
Ammar Deki aktivis Kabupaten Tangerang angkat bicara setelah mendengar pernyataan pihak BBWSC3 yang diwakili oleh Khk.
"Saya merasa heran, kenapa aliran kali Gembong tidak dialiri air saat banjir besar melanda, justru kali sekunder dan tersier banyak yang tidak jalan airnya saat musim hujan seperti ini, sedangkan banjir melanda wilayah Cisoka dan Jayanti itu akibat meluapnya kali Cidurian. Jika dibagi saja ukuran satu meter atau dua meter dari pintu air di Tangkele ke arah Irigasi Gembong, tentunya dampak banjir wilayah Cisoka dan Jayanti tidak terlalu parah. Ini air Cidurian meluap karena besarnya dan banyaknya air yang ada di Cidurian, sehingga kampung yang ada di deretan dekat dengan kali Cidurian menjadi terkena luapan air Cidurian tersebut. Bagaimana mungkin penanganan pintu air di Tangkele sudah benar, saya kecewa dengan masalah ini" ujar Deki
(Taswan)

Posting Komentar