Peran Literasi Media bagi Generasi Z di Era Banjir Informasi
Oleh: Shirly Aulia: Mahasiswa Prodi S-1 Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI
Dharmasraya, -- Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, generasi Z tumbuh dalam arus informasi yang tidak pernah berhenti. Setiap detik, media sosial menampilkan jutaan unggahan, berita, dan opini yang berseliweran tanpa batas. Fenomena ini sering disebut sebagai information flood atau banjir informasi.
Situasi ini menawarkan banyak peluang, namun juga membawa risiko besar jika masyarakat tidak memiliki kemampuan literasi media yang memadai. Literasi media bukan lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan kemampuan untuk memahami, menganalisis, serta mengevaluasi setiap informasi yang diterima.
Oleh karena itu, literasi media menjadi kebutuhan utama generasi Z yang menjadi pengguna terbesar internet. Generasi Z tumbuh dengan akses cepat terhadap media digital seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan X. Platform ini menjadi ruang utama mereka dalam berkomunikasi, mengekspresikan diri, hingga mencari informasi.
Namun, arus informasi yang sangat bebas ini membuat batas antara fakta dan opini menjadi kabur. Tidak sedikit pengguna yang membagikan berita palsu hanya karena tergiur judul provokatif atau terpancing emosi. Hal ini membuktikan bahwa keberlimpahan informasi tidak selalu menjamin kualitas pengetahuan seseorang.
Justru, tanpa kemampuan memilah informasi, generasi muda dapat terjebak dalam misinformasi, hoaks, bahkan propaganda. Literasi media hadir sebagai solusi terhadap persoalan tersebut. Dalam konteks ini, literasi media bukan hanya kemampuan mengenali informasi palsu, tetapi juga kemampuan memahami bagaimana media bekerja, bagaimana pesan dikonstruksi, siapa yang diuntungkan, dan nilai apa yang sedang disampaikan.
Dengan literasi media, seseorang bisa bersikap kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh konten yang menyesatkan. Ini penting terutama di Indonesia, di mana kasus penyebaran hoaks meningkat tajam, terutama menjelang momen politik, isu kesehatan, hingga isu sosial budaya.
Generasi Z yang aktif di dunia maya harus dibekali kemampuan untuk tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga menganalisis informasi secara mendalam. Selain itu, literasi media juga memberikan kemampuan untuk beretika dalam berkomunikasi di ruang digital.
Banyak kasus perundungan daring (cyberbullying) terjadi karena rendahnya kesadaran etika digital. Pengguna sering kali merasa bebas menulis apa saja tanpa mempertimbangkan dampak psikologis pada orang lain. Dengan literasi media, generasi muda diharapkan mampu menggunakan media secara bertanggung jawab, tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk menciptakan ruang digital yang sehat dan aman.
Etika digital sangat penting dalam menjaga interaksi yang beradab di media sosial. Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial memberi ruang besar bagi generasi Z untuk berkreativitas. Banyak anak muda berhasil meraih popularitas, pendapatan, bahkan karier melalui berbagai konten digital.
Namun, kreativitas tanpa kontrol dapat menjadi bumerang. Banyak pembuat konten nekat melakukan tindakan ekstrem, tidak bermoral, atau melanggar hukum demi mendapatkan perhatian. Ini menjadi bukti bahwa literasi media juga harus mencakup kemampuan memahami dampak suatu konten terhadap publik dan diri sendiri.
Kreativitas yang tidak dibarengi pemahaman tentang batasan etika dapat berdampak buruk bagi karier dan reputasi seseorang. Dari sisi pendidikan, literasi media juga berperan penting dalam peningkatan kualitas belajar.
Banyak mahasiswa yang bergantung pada internet sebagai sumber informasi akademik. Namun, tidak semua sumber di internet kredibel. Dengan literasi media, mahasiswa dapat membedakan sumber yang ilmiah dan terpercaya dari sumber yang tidak valid.
Ini akan meningkatkan kualitas karya tulis, penelitian, dan pemahaman akademik mereka. Perguruan tinggi seperti Undhari dapat berperan aktif dalam membangun budaya literasi media melalui mata kuliah jurnalistik, pelatihan penulisan, hingga kegiatan peliputan.
Dalam dunia kerja, kemampuan literasi media menjadi salah satu keterampilan yang paling dicari. Perusahaan membutuhkan tenaga muda yang mampu mengelola informasi, memproduksi konten, serta memahami dinamika publik.
Generasi Z yang melek media akan lebih siap menghadapi tantangan profesional, terutama di bidang komunikasi, marketing, pendidikan, dan pemerintahan. Literasi media bukan hanya soal memahami informasi, melainkan kemampuan membangun citra, menjaga kredibilitas, dan menyampaikan pesan secara efektif kepada publik.
Dari seluruh uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa literasi media memiliki peran yang sangat penting bagi generasi Z. Tidak hanya untuk melindungi diri dari hoaks dan manipulasi, tetapi juga dalam meningkatkan kreativitas, etika digital, prestasi akademik, serta kesiapan menghadapi dunia kerja.
Di era digital yang penuh tantangan ini, literasi media adalah tameng sekaligus pedang: melindungi sekaligus membekali generasi muda untuk berperan aktif dan positif di masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan literasi media harus diperkuat, baik melalui keluarga, sekolah, kampus, maupun lembaga pemerintah.
Dengan literasi media yang kuat, generasi Z tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga pencipta perubahan positif di era digital. (AS)

Posting Komentar