Pola Hidup Tidak Sehat Sudah Menjadi Gaya Hidup
Oleh: Citra Puspita: Mahasiswa Prodi S-1 Kebidanan FIKES UNDHARI
Dharmasraya, -- Di era modern seperti sekarang, menjaga kesehatan seharusnya menjadi prioritas utama setiap individu. Kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi membuat pengetahuan tentang hidup sehat sangat mudah diakses oleh masyarakat.
Berbagai artikel, video edukasi, hingga kampanye kesehatan tersebar luas melalui media sosial, televisi, dan internet. Informasi mengenai pentingnya pola makan seimbang, olahraga teratur, serta istirahat yang cukup dapat ditemukan dengan mudah hanya melalui ponsel.
Namun, ironisnya, meskipun masyarakat telah mengetahui pentingnya hidup sehat dan risiko dari pola hidup tidak sehat, kebiasaan tersebut justru semakin dianggap wajar dan bahkan berubah menjadi gaya hidup.
Pola makan tidak teratur, konsumsi makanan instan, kurang tidur, dan minim aktivitas fisik kini seolah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang sulit dihindari. Salah satu contoh paling nyata dari pola hidup tidak sehat adalah kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji.
Kesibukan, tuntutan pekerjaan, serta gaya hidup yang serba cepat membuat banyak orang memilih makanan instan karena dianggap praktis dan menghemat waktu. Makanan cepat saji juga mudah ditemukan di berbagai tempat, mulai dari pusat perbelanjaan hingga layanan pesan antar.
Sayangnya, makanan jenis ini umumnya mengandung kadar gula, garam, dan lemak yang tinggi, namun rendah serat, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Jika dikonsumsi secara terus-menerus, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, kolesterol tinggi, dan tekanan darah tinggi.
Meskipun dampaknya sudah banyak diketahui, kenyamanan dan rasa nikmat sering kali membuat orang mengabaikan kesehatan jangka panjang. Selain pola makan, kebiasaan begadang juga menjadi masalah serius yang semakin meluas di masyarakat.
Banyak orang rela mengorbankan waktu tidur demi menonton hiburan, bermain media sosial, bermain gim daring, atau menyelesaikan pekerjaan. Kurang tidur sering dianggap sebagai hal yang biasa, terutama di kalangan pelajar, mahasiswa, dan pekerja muda.
Padahal, tidur yang cukup memiliki peran penting bagi tubuh untuk melakukan pemulihan sel, menjaga keseimbangan hormon, serta mendukung kesehatan mental. Jika kebiasaan begadang dilakukan secara terus-menerus, tubuh akan menjadi mudah lelah, daya tahan tubuh menurun, emosi menjadi tidak stabil, dan tingkat konsentrasi serta produktivitas pun ikut terganggu.
Kurangnya aktivitas fisik juga memperburuk kondisi kesehatan masyarakat saat ini. Kemajuan teknologi membuat banyak aktivitas dapat dilakukan dengan sedikit atau bahkan tanpa gerakan tubuh. Transportasi semakin mudah, pekerjaan banyak dilakukan di depan layar komputer, dan hiburan pun dapat dinikmati sambil duduk atau berbaring selama berjam-jam.
Pola hidup sedentari seperti ini perlahan menjadi kebiasaan. Olahraga sering kali dianggap sebagai kegiatan tambahan yang hanya dilakukan jika ada waktu luang. Padahal, aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki, bersepeda, membersihkan rumah, atau melakukan olahraga singkat secara rutin sudah cukup membantu menjaga kebugaran tubuh dan mencegah berbagai penyakit.
Hal yang membuat kondisi ini semakin memprihatinkan adalah anggapan bahwa pola hidup tidak sehat merupakan sesuatu yang normal dan sulit dihindari. Banyak orang beranggapan bahwa ketika sakit, mereka bisa langsung mengandalkan obat obatan atau layanan kesehatan. Akibatnya, upaya pencegahan sering diabaikan.
Pola pikir seperti ini menunjukkan rendahnya kesadaran masyarakat bahwa mencegah penyakit jauh lebih baik, lebih mudah, dan lebih murah dibandingkan mengobatinya. Ketika tubuh mulai mengalami gangguan, barulah kesehatan dianggap sebagai hal yang penting dan perlu diperhatikan.
Faktor lingkungan dan sosial juga memiliki pengaruh besar dalam membentuk gaya hidup tidak sehat. Lingkungan pertemanan yang terbiasa begadang, jarang berolahraga, dan gemar mengonsumsi makanan tidak sehat dapat memengaruhi kebiasaan seseorang.
Selain itu, maraknya iklan makanan cepat saji dan minuman manis di berbagai media turut membentuk pola konsumsi masyarakat, terutama generasi muda. Tanpa edukasi kesehatan yang memadai dan berkelanjutan, masyarakat akan terus terjebak dalam kebiasaan yang merugikan kesehatan mereka sendiri.
Menurut saya, perubahan menuju pola hidup sehat tidak harus dimulai dengan langkah besar dan sulit. Perubahan kecil namun dilakukan secara konsisten justru lebih efektif dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mengatur jam tidur agar lebih teratur, mengurangi konsumsi makanan instan, memperbanyak minum air putih, serta menyisihkan waktu untuk bergerak setiap hari merupakan langkah sederhana yang bisa dilakukan oleh siapa saja.
Kesadaran diri menjadi kunci utama dalam membangun kebiasaan hidup sehat, karena perubahan tidak akan berhasil tanpa adanya kemauan dari dalam diri sendiri. Selain peran individu, peran keluarga, sekolah, dan pemerintah juga sangat penting dalam membentuk pola hidup sehat masyarakat.
Edukasi kesehatan sejak dini perlu diperkuat agar anak-anak memahami pentingnya menjaga tubuh mereka. Sekolah dapat menjadi tempat yang efektif untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat melalui kegiatan olahraga dan pembelajaran.
Keluarga berperan sebagai contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, sementara pemerintah diharapkan dapat menyediakan fasilitas pendukung seperti ruang terbuka hijau, sarana olahraga, serta kampanye kesehatan yang berkelanjutan dan mudah dipahami oleh masyarakat.
Kesimpulannya, pola hidup tidak sehat yang telah berubah menjadi gaya hidup merupakan masalah serius yang tidak boleh dianggap sepele. Jika dibiarkan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh masyarakat secara luas.
Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran bersama untuk mulai memperbaiki kebiasaan hidup sehari-hari. Hidup sehat bukanlah tren sesaat, melainkan investasi jangka panjang demi kualitas hidup yang lebih baik di masa depan. (AS)

Posting Komentar