Ketika Sungai Menyimpan Ingatan Kerusakan
Oleh: Rama Junita: Mahasiswa Prodi S-1 Manajemen FHEB UNDHARI
Dharmasraya, -- Peristiwa banjir yang baru-baru ini melanda Dusun Sungai Telang Kabupaten Bungo menjadi gambaran nyata tentang kondisi lingkungan yang semakin memburuk. Banjir yang terjadi di kawasan Dusun Sungai Telang, khususnya yang berkaitan dengan aktivitas penambangan emas di sekitar aliran sungai, menunjukkan bahwa alam tidak lagi mampu menampung beban eksploitasi manusia.
Banjir tersebut menyebabkan air sungai meluap dengan cepat, menggenangi rumah warga, merusak fasilitas umum, serta menghambat aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat. Jalan-jalan utama berubah menjadi genangan air berlumpur, sementara akses antar wilayah terputus.
Air yang keruh bercampur lumpur dan pasir menjadi pemandangan yang mendominasi wilayah terdampak, menandakan adanya perubahan serius pada kondisi sungai yang sebelumnya menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Banjir di Dusun Sungai Telang bukan sekadar peristiwa alam yang bersifat musiman, melainkan konsekuensi dari relasi manusia yang eksploitatif terhadap sungai. Sungai tidak lagi diperlakukan sebagai sistem alam yang harus dijaga keseimbangannya, tetapi sebagai ruang ekonomi yang dapat dieksploitasi tanpa batas.
Sudut pandang ini tidak pasaran karena memposisikan banjir sebagai hasil akumulasi tindakan manusia yang berlangsung lama, bukan sebagai kejadian tiba-tiba yang berdiri sendiri. Dalam konteks ini, banjir dapat dipahami sebagai bentuk peringatan ekologis atas praktik pembangunan yang mengabaikan keberlanjutan lingkungan.
Secara deskriptif, kondisi sungai Dusun Sungai Telang saat banjir menunjukkan banyak perubahan fisik yang mencolok. Alur sungai tampak menyempit dan dangkal akibat endapan lumpur hasil aktivitas penambangan emas.
Air yang mengalir tidak lagi jernih, melainkan berwarna cokelat pekat dengan bau tanah yang menyengat. Bantaran sungai yang sebelumnya ditumbuhi pepohonan kini banyak yang rusak dan gundul. Akar-akar pohon yang berfungsi menahan tanah telah hilang, sehingga erosi semakin mudah terjadi.
Ketika hujan deras turun, air sungai tidak mampu mengalir dengan normal karena kapasitasnya telah berkurang. Akibatnya, air meluap ke pemukiman warga dengan ketinggian yang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Penambangan emas telah mengganggu keseimbangan ekosistem sungai secara signifikan. Proses pengerukan dasar sungai dan penggunaan alat berat menyebabkan sedimentasi dalam jumlah besar. Endapan pasir dan lumpur menumpuk di dasar sungai, mempercepat terjadinya pendangkalan.
Selain itu, perubahan struktur sungai akibat penambangan membuat aliran air menjadi tidak stabil. Dalam kondisi seperti ini, curah hujan yang sebenarnya masih dalam batas wajar dapat memicu banjir besar.
Hal ini menunjukkan bahwa penyebab banjir tidak bisa dilepaskan dari aktivitas manusia di sekitar sungai, khususnya praktik penambangan yang tidak terkendali.
Kesaksian warga memperkuat gambaran dampak banjir yang semakin parah. Banyak warga menyatakan bahwa banjir kali ini datang lebih cepat dan surut lebih lama dibandingkan sebelumnya. Rumah-rumah terendam air selama beberapa hari, menyebabkan kerusakan pada perabot, alat elektronik, dan dokumen penting.
Beberapa keluarga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Aktivitas belajar mengajar terhenti karena sekolah ikut terdampak banjir, sementara fasilitas kesehatan kesulitan memberikan pelayanan optimal.
Bagi masyarakat yang bergantung pada aktivitas harian, seperti pedagang kecil dan buruh, banjir berarti hilangnya pendapatan dan meningkatnya beban ekonomi keluarga. Kondisi ini memperlihatkan bahwa dampak banjir tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga sosial dan ekonomi.
Selain sedimentasi, penggunaan bahan kimia dalam penambangan emas turut memperburuk dampak banjir. Bahan seperti merkuri sering digunakan untuk memisahkan emas dari material lain.
Ketika banjir terjadi, zat berbahaya ini ikut terbawa air dan menyebar ke lingkungan sekitar, termasuk ke lahan pertanian dan sumber air bersih. Dampaknya memang tidak langsung terlihat, tetapi dalam jangka panjang dapat mengancam kesehatan masyarakat, merusak kualitas tanah, dan mencemari ekosistem perairan.
Dengan demikian, banjir tidak hanya membawa air dan lumpur, tetapi juga potensi risiko kesehatan yang serius bagi generasi sekarang dan mendatang.
Dari sisi kebijakan dan pengelolaan lingkungan, banjir di Dusun Sungai Telang mencerminkan lemahnya pengawasan terhadap aktivitas penambangan emas. Penambangan sering dilakukan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan dan aturan yang berlaku.
Ketika banjir melanda, upaya penanganan yang dilakukan cenderung bersifat sementara, seperti pemberian bantuan logistik atau pembersihan pasca-banjir. Akar permasalahan, yaitu kerusakan sungai akibat penambangan, belum ditangani secara menyeluruh.
Akibatnya, banjir terus berulang dan seolah menjadi kejadian yang dianggap biasa, padahal dampaknya semakin merugikan.
Banjir di Dusun Sungai Telang merupakan dampak langsung dari eksploitasi emas yang mengabaikan keberlanjutan lingkungan. Selama sungai terus diperlakukan sebagai objek ekonomi semata tanpa pengelolaan yang bertanggung jawab, banjir akan tetap menjadi ancaman bagi masyarakat.
Oleh karena itu, diperlukan perubahan cara pandang dalam memanfaatkan sumber daya alam. Sungai seharusnya dijaga sebagai penopang kehidupan, bukan dieksploitasi secara berlebihan hingga akhirnya berubah menjadi sumber bencana.
Dengan menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan, risiko banjir di Dusun Sungai Telang dapat dikurangi di masa mendatang, sekaligus mengembalikan fungsi sungai sebagai ruang hidup yang aman dan berkelanjutan. (AS

Posting Komentar