Revitalisasi PAUD Baitul Hikmah Diduga Mainkan Spesifikasi, Besi 10 mm dan Hebel Rijek Digunakan
SERANG — Revitalisasi PAUD Baitul Hikmah di Kampung Rancagedé, Desa Carenang Udik, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang, Banten, menuai sorotan. Program bantuan pemerintah yang pada sejumlah revitalisasi PAUD lainnya di Kabupaten Serang bernilai ratusan juta rupiah tersebut justru diduga menggunakan material yang dipertanyakan, mulai dari bata hebel rijekan hingga besi berukuran 10 mm.
Temuan ini semakin menjadi sorotan karena penggunaan material tersebut diduga berkaitan dengan upaya menekan biaya pembelanjaan. Di sisi lain, nilai anggaran PAUD Baitul Hikmah sendiri belum tercantum pada papan informasi pekerjaan di lokasi.
Hasil pengamatan media pada Kamis (13/8/2026), terlihat sejumlah bata hebel dalam kondisi pecah atau terbelah tetap digunakan dalam pekerjaan. Selain itu, besi berukuran 10 mm disebut digunakan pada sejumlah bagian pembesian struktur, termasuk sloof, kolom dan tiang, sedangkan besi cincin menggunakan ukuran 8 mm.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai kesesuaian material dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan spesifikasi teknis yang ditetapkan dalam program revitalisasi.
Jika dibandingkan dengan nilai bantuan revitalisasi PAUD lain di Kabupaten Serang yang berdasarkan data yang dimiliki media berada pada kisaran ratusan juta rupiah, penggunaan material rijekan dan pembesian yang dipertanyakan tersebut patut diperiksa secara menyeluruh.
Namun, besarnya anggaran tidak serta-merta dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya tindak pidana korupsi. Kepastian mengenai ada atau tidaknya penyimpangan harus dibuktikan melalui pemeriksaan RAB, volume pekerjaan, harga satuan, spesifikasi material dan audit penggunaan anggaran.
Yang menjadi pertanyaan, mengapa program dengan anggaran pemerintah yang nilainya cukup besar diduga menggunakan material yang kualitas dan spesifikasinya dipertanyakan?
Terlebih, papan informasi di lokasi tidak mencantumkan nilai anggaran maupun nama pelaksana pekerjaan.
Media juga menemukan pihak yang bekerja di lapangan mengaku tidak mengetahui nilai anggaran maupun susunan P2SP. Maryanto, yang disebut bekerja di lokasi, mengaku dirinya bekerja atas perintah pemilik PAUD, Dulloh.
“Saya atas perintah Pak Dulloh. Kalau bata hebel memang rijekan karena harganya miring (murah), besi memang semua pakai ukuran 10 mm, cincin 8,” ujar Maryanto.
Saat ditanya mengenai nilai anggaran dan siapa saja panitia P2SP, Maryanto mengaku tidak mengetahuinya.
“Saya nggak tahu anggarannya, panitia juga saya nggak tahu,” katanya.
Kondisi tersebut semakin memperkuat perlunya pemeriksaan terhadap mekanisme pelaksanaan program, termasuk dugaan pekerjaan yang tidak dilakukan secara swakelola murni.
Dinas Pendidikan Kabupaten Serang dan instansi terkait diminta segera turun ke lapangan untuk melakukan audit dan pemeriksaan teknis, terutama mencocokkan material yang digunakan dengan RAB serta memastikan apakah pelaksanaan benar-benar sesuai ketentuan program bantuan pemerintah.
Jika ditemukan adanya pengurangan spesifikasi, ketidaksesuaian volume, penggelembungan harga, atau penyimpangan penggunaan anggaran, pihak berwenang diharapkan mengambil tindakan sesuai ketentuan hukum.
Media telah menyampaikan temuan tersebut kepada instansi terkait untuk dilakukan audit dan evaluasi.
Berita ini disusun berdasarkan hasil pengamatan lapangan, dokumentasi visual dan audio serta konfirmasi terhadap pihak yang ditemui di lokasi. Pihak PAUD Baitul Hikmah tetap memiliki ruang untuk memberikan klarifikasi dan hak jawab.(Red)



Posting Komentar