Tumbuh Tanpa Sorotan: Anak Petani, Kerja sunyi, dan Harga Diri
Oleh: Aisah: Mahasiswa Program Studi S-1 Manajemen Fakultas Hukum dan Ekonomi Bisnis Universitas Dharmas Indonesia
Dharmasraya, -- Tidak semua anak yang tumbuh dengan sorotan dan kemewahan dalam hidup. Sebagian tumbuh dengan kesederhanaan dari tetesan keringat orang tua sebagai seorang petani yang kerap di pandang sebelah mata.
Saya salah satu dari mereka.
Saya tumbuh di rumah kecil tanpa adanya kemewahan di dalam nya. setiap pagi, sebelum matahari terbit langkah kaki ayah sudah lebih dulu datang ke kebun untuk mencari rezeki untuk anak dan istrinya. Ibu dengan penuh ketulusan dan kasih sayang sudah berisik di dapur memasak sarapan untuk anak nya sebelum bersekolah.
Ayah saya bekerja di kebun karet dan sawit milik orang lain. Ia bukan pemilik tanah, bukan pula pengusaha kebun. Ia hanyalah seorang buruh yang menukar tenaga dan waktunya dengan upah yang sering kali habis sebelum bulan berganti.
Tangannya mengeras oleh getah, pakaiannya berbau tanah dan keringat. Dari sanalah saya belajar kesabaran dan ketabahan dalam hidup.
Ibu menjalani peran yang tak kalah berat. Ia mengelola rumah dengan perhitungan yang cermat, memastikan kebutuhan terpenuhi meski ruang gerak sangat terbatas.
Kelelahan sering disimpannya sendiri agar tidak menular pada kami. Doa-doanya lebih panjang daripada keluhannya, dan ketabahannya menjadi penopang ketika keadaan terasa semakin sempit dan harapan seolah menyusut. ibu yang selalu sabar dan ikhlas melakukan pekerjaan rumah.
Menjadi anak petani dan buruh berarti tumbuh bersama batas-batas yang nyata. Batas ekonomi, batas kesempatan, dan batas yang kerap diciptakan oleh pandangan sosial. Namun, saya belajar bahwa batas bukanlah penentu masa depan, melainkan titik awal pembentukan karakter.
Anak petani bukan sekadar anak petani; ia adalah anak dari kerja keras, dari ketekunan yang diwariskan setiap hari, dan dari nilai hidup yang sering kali tidak terlihat oleh mereka yang tumbuh dalam kemudahan.
Yang paling berat tidak selalu soal kekurangan materi. pada masa-masa tertentu, ketika kondisi ekonomi keluarga berada di titik paling rapuh, sikap manusia justru terasa paling menguji. Kami sering dipandang sebelah mata, bahkan oleh keluarga sendiri.
Bukan melalui penolakan terang-terangan, melainkan jarak yang pelan-pelan tercipta. Kami hadir, tetapi sering kali kehadiran kami seolah tidak dianggap ada.
Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa label sosial kerap bekerja lebih cepat daripada empati. Bahwa keadaan ekonomi sering kali dijadikan ukuran nilai seseorang, bahkan sebelum ia sempat memperkenalkan dirinya sebagai manusia yang utuh.
Ayah dan ibu memilih merespons semua itu dengan ketenangan. Tidak ada amarah yang diumbar, tidak ada keluhan yang diperpanjang. Ayah tetap bekerja seperti biasa, seolah dunia tidak sedang meragukan martabatnya. Ibu tetap mendoakan kebaikan, bahkan bagi mereka yang memilih menjaga jarak. Dari sikap itulah saya belajar bahwa martabat tidak dibangun dari pengakuan orang lain, melainkan dari cara seseorang bertahan tanpa kehilangan nilai-nilainya.
Di ruang sosial yang lebih luas, pekerjaan menyadap karet dan bekerja di kebun sawit milik orang lain sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang sederhana. Persepsi itu kemudian melekat pada keluarga, bahkan pada anak-anaknya, seolah latar belakang menentukan sejauh mana seseorang layak bermimpi dan sejauh apa langkahnya pantas diarahkan.
Padahal, anak petani bukan sekadar statistik sosial. Ia adalah ruang kemungkinan yang menunggu kesempatan untuk tumbuh. Ada malam-malam ketika doa ibu terasa lebih panjang dari biasanya, dan pagi-pagi ketika ayah berangkat dengan kesunyian yang penuh tanggung jawab. Dari keduanya saya belajar bahwa keteguhan tidak selalu bersuara, dan cinta tidak selalu membutuhkan pengakuan.
Dalam keterbatasan itu, pendidikan menjadi satu-satunya cahaya yang paling nyata. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi ruang harapan. Setiap biaya pendidikan yang dikeluarkan orang tua saya adalah hasil dari keringat dan doa yang tidak pernah dihitung secara matematis.
Setiap buku yang saya buka terasa seperti titipan peluh ayah dan harapan ibu. Dari sanalah saya memahami bahwa asal-usul tidak membatasi tujuan, selama seseorang mau berjalan dan bertahan.
Saya tumbuh dengan kesadaran bahwa saya harus belajar lebih sungguh-sungguh dan berjalan lebih hati-hati.
Bukan untuk membuktikan diri kepada dunia, melainkan untuk menjaga harga diri keluarga saya. Ada tanggung jawab moral yang ikut tumbuh bersama saya: tanggung jawab untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanan yang telah diberikan dalam diam.
Saya menolak anggapan bahwa anak petani dan buruh hanya pantas berada di pinggiran. Kami mungkin lahir dari keterbatasan, tetapi kami dibesarkan oleh ketahanan. Dari kebun karet dan sawit yang bukan milik kami, saya belajar tentang proses, kesabaran, dan arti menunggu—pelajaran yang tidak selalu tertulis, tetapi membentuk cara pandang saya terhadap kehidupan.
Hari ini, ketika saya melangkah sebagai mahasiswa, saya membawa seluruh kisah itu bukan sebagai beban, melainkan sebagai identitas.
Saya tidak malu menyebut asal-usul saya. Justru dari sanalah saya belajar tentang arti martabat—tentang bagaimana tetap berdiri meski sering diremehkan, dan bagaimana mimpi bisa tumbuh dari tempat yang paling sederhana.
Anak petani dan buruh bukan cerita sedih yang perlu dikasihani. Kami adalah kisah ketahanan yang perlu dihargai. Kami tumbuh tanpa sorotan, tetapi dengan nilai yang kuat. Kami belajar bertahan sebelum berani bermimpi, dan belajar rendah hati sebelum mengenal ambisi.
Bagi saya, menjadi anak petani dan buruh bukanlah aib. Ia adalah akar. Dan dari akar itulah, kami belajar tumbuh diam-diam, kuat, dan tidak mudah dipatahkan. Dari kesederhanaan, martabat dapat tumbuh. Dari ketekunan, masa depan perlahan menemukan jalannya. (AS)

Posting Komentar