Peran Mahasiswa Dalam Membangun Karakter Bangsa
Oleh: Tata Anesa: Mahasiswa Fakultas Hukum dan Ekonomi Bisnis Universitas Dharmas Indonesia
Dharmasraya, -- Bangsa besar tidak hanya didirikan di atas dasar ekonomi yang kuat atau infrastruktur yang megah, tetapi juga di atas pilar karakter masyarakatnya. Karakter bangsa merupakan wujud dari nilai-nilai moral, etika, dan semangat kolektif yang menentukan sikap suatu negara di hadapan dunia.
Di tengah-tengah arus globalisasi yang membawa perubahan nilai-nilai budaya, Indonesia menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan identitasnya. Dalam konteks ini, mahasiswa hadir sebagai elemen penting. Mahasiswa, sebagai generasi muda intelektual, memiliki peran penting sebagai penyambung lidah rakyat dan penggerak transformasi sosial, di samping pencari gelar akademik. Mereka juga memegang kunci dalam pembangunan karakter bangsa.
Karakter bangsa merupakan cerminan dari kepribadian kolektif masyarakat yang terbentuk dari nilai-nilai luhur seperti kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, kerja keras, toleransi, kepedulian sosial, dan semangat gotong royong. Karakter bangsa yang kuat menjadi fondasi utama dalam menjaga persatuan dan kesatuan nasional, terutama di tengah tantangan globalisasi yang membawa berbagai pengaruh budaya asing. Dalam konteks ini, mahasiswa sebagai kaum intelektual muda memiliki peran penting dalam menjaga, menanamkan, dan mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Dari segi teori, mahasiswa sering disebut sebagai Iron Stock, yakni cadangan masa depan yang disiapkan untuk meneruskan generasi tua. Akan tetapi, mahasiswa tidak boleh mengambil peran yang pasif. Karakter bangsa tidak bisa dibentuk secara tiba-tiba ketika seseorang sudah menjadi pejabat pemerintah, ia harus dibangun sejak masa kuliah. Mahasiswa, sebagai Agen Perubahan, memiliki kebebasan berpikir dan idealisme yang belum terpengaruh oleh kepentingan politik praktis. Dengan kekuatan ini, mereka dapat mengkritisi dekadensi moral seperti korupsi, intoleransi, dan apatisme. Ketika mahasiswa menunjukkan integritas dalam kehidupan kampus seperti menolak untuk menyontek atau plagiarism mereka sedang menanam benih karakter jujur yang akan dibawa ke ranah nasional.
Di era digital, tantangan terhadap karakter bangsa menjadi semakin kompleks. Budaya asing yang masuk melalui media sosial sering kali mengikis nilai-nilai lokal seperti gotong royong dan sopan santun. Mahasiswa, yang merupakan pengguna teknologi dengan aktivitas paling tinggi, memiliki tanggung jawab untuk melakukan filtrasi budaya.
Mahasiswa dapat membangun karakter bangsa melalui literasi digital. Mahasiswa mesti
mengambil peran utama dalam menanggulangi hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi yang mengganggu persatuan. Mahasiswa membantu menjaga kohesi sosial dan memastikan karakter bangsa tetap adaptif sambil berakar pada identitas nasional dengan mempromosikan konten yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila.
Lingkungan kampus berfungsi sebagai laboratorium miniatur masyarakat. Mahasiswa mempelajari kepemimpinan, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap perbedaan pendapat melalui organisasi kemahasiswaan. Karakter yang demokratis dan toleran ini menjadi dasar utama dari bangsa Indonesia yang majemuk. Di samping itu, mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan realitas sosial melalui program-program seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau pengabdian masyarakat sukarela.
Di tempat itu, mereka mempelajari empati dan rasa peduli. Karakter yang kuat pada bangsa adalah karakter yang memperhatikan nasib orang lain. Ketika mahasiswa kedokteran memberikan penyuluhan kesehatan di desa terpencil, atau mahasiswa teknik membantu membangun sistem irigasi, mereka sedang menunjukkan karakter "nasionalisme produktif".
Peran mahasiswa adalah sebagai penjaga nilai (Guardian of Value). Nilai-nilai seperti keadilan, kejujuran, dan kemanusiaan merupakan hal yang harus dijaga tanpa syarat. Dalam sejarah Indonesia, mahasiswa berperan sebagai pengingat saat negara mulai menyimpang dari nilai-nilai luhur. Namun, membangun karakter tidak hanya berkaitan dengan demonstrasi di jalanan. Prestasi dan karya merupakan cara yang paling efektif untuk membangun karakter bangsa. Mahasiswa yang berhasil di tingkat internasional sembari mempertahankan identitas budaya Indonesia merupakan manifestasi nyata dari penguatan martabat bangsa. Kepercayaan diri sebagai bangsa merupakan bagian dari karakter yang perlu dibangun oleh generasi muda.
Dalam membangun karakter bangsa, mahasiswa juga dituntut untuk memiliki integritas pribadi. Integritas tercermin dari kejujuran dalam akademik, seperti menghindari plagiarisme dan menegakkan etika ilmiah. Kejujuran akademik merupakan dasar terbentuknya karakter yang kuat dan dapat dipercaya.
Jika mahasiswa terbiasa bersikap jujur dan bertanggung jawab sejak di bangku kuliah, maka di masa depan mereka akan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan berintegritas.
Jebakan pragmatisme menjadi salah satu kendala terbesar yang dihadapi mahasiswa saat ini. Sejumlah mahasiswa terperangkap dalam cara berpikir "hanya ingin cepat lulus dan bekerja", hingga melupakan peran sosialnya. Dengan pola pikir ini, seseorang akan cenderung bersikap individualis dan materialistis, yang justru berlawanan dengan karakter bangsa yang diharapkan.
Oleh sebab itu, lembaga pendidikan dan mahasiswa perlu merenungkan kembali arti pendidikan. Pendidikan tidak hanya sebatas transfer ilmu (transfer of knowledge), tetapi juga mencakup transfer nilai (transfer of value). Mahasiswa perlu menyadari bahwa kecerdasan tanpa karakter merupakan ancaman bagi negara, seperti yang diungkapkan dalam pepatah terkenal, "kepintaran tanpa integritas akan melahirkan penindas."
Proses pembangunan karakter bangsa merupakan suatu usaha yang berkelanjutan dan tidak akan pernah tuntas. Dengan segala potensi intelektual dan semangat mudanya, mahasiswa menjadi tulang punggung dari proses ini. Dengan mengedepankan sikap berintegritas, berpikir kritis dan kreatif, serta menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan sosial, mahasiswa secara otomatis turut membangun karakter bangsa yang kuat. Masa depan Indonesia bergantung pada ketahanan karakter generasinya, bukan pada kekayaan sumber daya alamnya. Hari ini, mahasiswa adalah para pemimpin di masa depan; dan karakter yang mereka bentuk saat ini akan menjadi cerminan Indonesia di masa depan. Mari menjadikan kampus sebagai kawah candradimuka persemaian nilai-nilai luhur bangsa, bukan hanya tempat untuk mengejar indeks prestasi.
Pada akhirnya, peran mahasiswa dalam membangun karakter bangsa tidak dapat dipisahkan dari kesadaran diri akan tanggung jawabnya sebagai generasi penerus. Mahasiswa bukan hanya pencari ilmu, tetapi juga penjaga nilai-nilai luhur bangsa. Dengan mengembangkan karakter positif dalam diri sendiri, lingkungan kampus, dan masyarakat, mahasiswa turut berkontribusi dalam menciptakan bangsa yang bermartabat, berdaya saing, dan berkepribadian kuat.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa memiliki peran yang sangat strategis dalam membangun karakter bangsa. Melalui sikap, perilaku, dan kontribusi nyata di berbagai bidang, mahasiswa dapat menjadi motor penggerak perubahan menuju bangsa yang berkarakter, beretika, dan berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Peran ini harus terus dijaga dan dikembangkan agar mahasiswa benar-benar menjadi harapan bangsa di masa depan. (AS)

Posting Komentar