Kecerdasan Buatan (AI) di Sekolah: Revolusi Pembelajaran Atau Ancaman Pengganti Guru?
Oleh: Suci Nurul Hidayah: Mahasiswa Prodi S-1 pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI
Dharmasraya, -- Perkembangan teknologi yang semakin pesat telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Cara belajar siswa saat ini tidak lagi sama seperti beberapa tahun lalu. Buku pelajaran, papan tulis, dan penjelasan guru di kelas kini mulai berdampingan dengan teknologi digital yang semakin canggih.
Salah satu bentuk perkembangan teknologi yang paling banyak dibicarakan adalah kecerdasan buatan atau AI. Dalam dunia pendidikan, AI mulai dimanfaatkan dalam berbagai bentuk, seperti aplikasi belajar daring. Kehadiran AI ini menimbulkan beragam pandangan. Ada yang melihatnya sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, namun ada pula yang menganggapnya sebagai ancaman bagi peran guru.
Perdebatan ini wajar, mengingat pendidikan bukan hanya soal menyampaikan materi, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian peserta didik. Dari sisi positif, AI menawarkan banyak kemudahan yang sebelumnya sulit diwujudkan. Salah satu keunggulan utama AI adalah kemampuannya menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan masing-masing siswa.
Setiap siswa memiliki kemampuan, gaya belajar, dan kecepatan memahami materi yang berbeda. Dengan bantuan teknologi AI, pembelajaran dapat dibuat lebih personal. AI juga membuka peluang pembelajaran yang lebih fleksibel. Melalui platform digital, siswa dapat belajar kapan saja dan di mana saja sesuai dengan kebutuhan mereka.
Hal ini sangat membantu terutama bagi siswa yang memiliki keterbatasan waktu, jarak, atau akses pendidikan. Selain itu, bagi siswa yang merasa malu atau ragu untuk bertanya di kelas, AI dapat menjadi sarana belajar alternatif tanpa tekanan sosial.
Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, penggunaan AI dalam pendidikan juga menimbulkan sejumlah kekhawatiran. Salah satu kekhawatiran terbesar adalah anggapan bahwa AI dapat menggantikan peran guru. Jika teknologi terlalu diandalkan, dikhawatirkan peran guru akan semakin terpinggirkan.
Padahal, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi pelajaran, tetapi juga pembentukan karakter, nilai moral, dan sikap sosial siswa. Guru memiliki peran yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Guru mampu memahami kondisi emosional siswa, memberikan motivasi, serta menjadi teladan dalam bersikap dan bertindak.
Hubungan emosional antara guru dan siswa adalah bagian penting dalam proses pendidikan yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan, secerdas apa pun teknologi tersebut. Selain itu, penggunaan AI secara berlebihan juga berpotensi membuat siswa menjadi terlalu bergantung pada teknologi.
Jika tidak dikontrol dengan baik, siswa bisa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas karena terbiasa mengandalkan jawaban instan dari teknologi. Padahal, kemampuan berpikir kritis, menganalisis, dan memecahkan masalah merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki siswa untuk menghadapi tantangan di masa depan.
Oleh karena itu, penggunaan AI dalam pendidikan perlu disikapi secara bijak. AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti peran guru. Guru tetap menjadi tokoh utama dalam proses pembelajaran, sementara AI berperan sebagai pendukung yang membantu meningkatkan efektivitas dan kualitas pembelajaran.
Dengan kata lain, hubungan antara guru dan teknologi harus bersifat saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Agar pemanfaatan AI di sekolah berjalan dengan baik, diperlukan kesiapan dari berbagai pihak. Guru perlu dibekali dengan pemahaman dan keterampilan digital agar mampu memanfaatkan teknologi secara optimal.
Sekolah dan pemerintah juga memiliki peran penting dalam menyusun kebijakan yang mengatur penggunaan AI secara bijak dan bertanggung jawab. Selain itu, siswa juga perlu diberikan pemahaman tentang etika yang baik untuk penggunaan teknologi agar tidak menyalahgunakan AI dalam proses belajar.
Kehadiran kecerdasan buatan di dunia pendidikan merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. AI dapat menjadi inovasi besar yang membawa perubahan positif apabila dimanfaatkan dengan tepat. Oleh karena itu, hubungan antara guru, siswa, dan teknologi menjadi kunci utama dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas, dan relevan dengan perkembangan zaman. (AS)

Posting Komentar