Super Flu sebagai Ancaman Kesehatan, Bukan Sekadar Isu Musiman
Oleh: Anggi Ardiyanto: Mahasiswa S-1 Keperawatan FIKES UNDHARI
Dharmasraya, -- Beberapa waktu terakhir, istilah super flu ramai diperbincangkan di Indonesia dan dunia. Media sosial penuh dengan unggahan tentang flu yang konon "lebih ganas dari sebelumnya", sementara sebagian warga mulai merasa cemas kembali setelah pengalaman pandemi COVID-19 yang belum terlalu lama usai.
Tapi pada akhirnya, apakah fenomena ini benar-benar sekadar isu musiman biasa atau justru menggambarkan ancaman kesehatan yang serius?
Untuk memahami hal ini, perlu kita telaah lebih dalam tidak hanya dari sisi data, tetapi juga dari perspektif pengalaman bersama kita selama pandemi COVID-19.
Pertama, istilah super flu sendiri perlu dijelaskan dengan sederhana. Ini bukan nama resmi dalam dunia medis, melainkan sebutan populer untuk varian baru dari virus influenza A yang disebut H3N2 subclade K.
Virus ini telah menyebar di berbagai negara di belahan bumi utara dan kini terdeteksi pula di Indonesia. Berdasarkan data terbaru, sampai akhir Desember 2025 terdapat 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K yang telah terkonfirmasi di delapan provinsi di Indonesia — dengan jumlah tertinggi di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Mayoritas pasien adalah perempuan dan kelompok usia anak-anak, terutama usia 1–10 tahun. Data ini memang tidak sebesar angka infeksi COVID-19 di puncak pandemi, tetapi angka ini memberi kita cerminan bahwa virus influenza baru bukan sekadar "isu musiman" yang sepele.
Virus influenza memiliki sejarah panjang dalam membawa ancaman serius kepada kesehatan masyarakat. Pada abad ke-20 saja, beberapa pandemi flu besar telah terjadi, termasuk pandemi flu tahun 1918 yang menyebabkan jutaan kematian di seluruh dunia.
Flu musiman setiap tahun pun secara rutin menyebabkan puluhan ribu hingga ratusan ribu rawat inap dan kematian di banyak negara, terutama di kelompok rentan seperti anak kecil, orang tua, dan penderita penyakit kronis.
Namun, berbeda dengan pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu, para ahli kesehatan menegaskan bahwa varian H3N2 subclade K ini tidak menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan virus influenza lainnya yang sudah ada.
Gejalanya pun biasanya mirip dengan flu musiman: demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan. Ini adalah kabar yang menenangkan, tapi bukan berarti kita boleh mengabaikannya begitu saja.
Dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yang membuat situasi ini menarik perhatian banyak pihak adalah dua hal: pertama, sifat virus yang mudah bermutasi, seperti halnya virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19; kedua, pengalaman traumatis masyarakat terhadap pandemi besar sebelumnya membuat setiap ancaman baru penyakit menular langsung dipandang sebagai "ancaman besar".
Sejak munculnya COVID-19, kita semua memahami betapa cepatnya sebuah virus dapat mengubah kehidupan: ekonomi melambat, sekolah ditutup, interaksi sosial dibatasi, dan sistem kesehatan kewalahan.
Pengalaman itu tentu meninggalkan bekas, sehingga ketika muncul berita tentang "super flu", wajar jika banyak orang bertanya: apakah kita akan kembali ke masa sulit seperti dulu?
Jawabannya adalah: tidak serta merta. Walaupun virus influenza H3N2 subclade K memiliki kemampuan menyebar dan memang telah menjadi dominan di banyak wilayah global, tingkat keparahan dan risiko komplikasi serius masih jauh di bawah apa yang kita lihat pada puncak pandemi COVID-19.
Bahkan di Indonesia, Kementerian Kesehatan memastikan bahwa situasi masih terkendali dan virus ini belum menunjukkan lonjakan kasus yang mengkhawatirkan.
Namun, kita juga tidak boleh menempatkan fenomena ini sebagai hal yang biasa saja. Cara pandang ini justru berbahaya karena dapat melemahkan kewaspadaan masyarakat.
Selama pandemi COVID-19, kita belajar bahwa penyakit menular bisa menyebar lebih cepat dari yang kita bayangkan jika tindakan pencegahan tidak dilakukan. Di banyak negara, gelombang penyakit berulang terjadi karena kombinasi rendahnya tingkat imun masyarakat dan kurangnya perilaku pencegahan yang konsisten.
Kita tahu bahwa vaksin influenza tersedia setiap tahun dan direkomendasikan untuk berbagai kelompok usia. Namun, virus H3N2 subclade K yang baru ini muncul setelah komposisi vaksin tahun ini ditetapkan, sehingga efektivitas vaksin terhadap subclade ini mungkin tidak optimal.
Ini menunjukkan kebutuhan akan penelitian terus-menerus dan pemutakhiran strategi vaksinasi global, sebagaimana yang kita lihat terjadi pada virus SARS-CoV-2.
Yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat adalah mengambil pelajaran dari pengalaman COVID-19: kita harus menjaga kebersihan diri dan lingkungan, selalu melindungi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, dan mengikuti saran dari otoritas kesehatan yang berbasis data.
Menjaga kebugaran tubuh dengan pola hidup sehat, tidur cukup, makan makanan bergizi, serta memastikan vaksinasi influenza tahunan merupakan contoh perilaku sederhana yang memiliki dampak besar.
Kekhawatiran terhadap super flu itu wajar — manusia tidak bisa terlepas dari rasa takut akan sesuatu yang tidak diketahui. Tetapi justru melalui pemahaman yang tepat dan langkah pencegahan yang konsisten, kita bisa menghadapi ancaman kesehatan ini tanpa menimbulkan kepanikan yang berlebihan.
Akhirnya, kita perlu memahami bahwa ancaman kesehatan seperti virus influenza dan COVID-19 bukanlah sesuatu yang akan hilang sepenuhnya. Mereka akan terus berkembang, beradaptasi, dan kadang-kadang menimbulkan gelombang baru kasus.
Namun dengan kesadaran kolektif, dukungan pada ilmu pengetahuan, dan kepatuhan terhadap langkah pencegahan, kita bisa menjalani hidup yang lebih sehat dan lebih aman bukan hanya sebagai respons terhadap ancaman, tetapi sebagai gaya hidup yang makin matang. (AS)

Posting Komentar