Ketika "Aku" Terabaikan: Refleksi Tentang Harga Diri dan Keraguan Diri
Oleh: Zeliatul Pitri: Mahasiswa Prodi S-1 Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI
Dharmasraya, -- Keberadaan manusia sering kali digambarkan sebagai pencarian makna yang tiada henti. Dalam perjalanan ini, terkadang kita menemukan diri kita berada di persimpangan jalan di mana rasa pengabaian merayap masuk, menggerogoti inti harga diri kita.
Pengabaian bukan selalu berarti ditinggalkan secara fisik; ia bisa berupa ketiadaan pengakuan, minimnya validasi emosional, atau perasaan bahwa suara dan kontribusi kita tidak dianggap berharga.
Bagi "aku" dalam narasi ini, rasa terabaikan adalah kabut tebal yang menyelimuti realitas, memicu keraguan diri yang mendalam dan menantang fondasi identitas.
Esai ini akan mengeksplorasi pengalaman tersebut dan proses transformatif untuk menemukan kembali harga diri di tengah bayang-bayang keraguan.
Babak Sunyi dari Pengabaian
Perasaan terabaikan sering kali bermula dari interaksi sosial, baik dalam lingkungan keluarga, pertemanan, maupun profesional. Aku mendapati diriku tersesat dalam dinamika di mana kehadiranku seolah transparan.
Ide-ideku dalam rapat sering kali menguap tanpa jejak, perasaanku dikesampingkan dalam percakapan, dan pencapaianku seakan luput dari pandangan. Lingkungan semacam ini secara perlahan memupuk keyakinan bahwa aku tidak cukup baik, memicu "self-talk" negatif yang berulang-ulang.
Keraguan mulai berakar, menanyakan apakah aku benar-benar berharga atau hanya bayangan dari ekspektasi orang lain. Dampak emosionalnya sangat besar. Muncul kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain yang tampaknya selalu mendapat perhatian dan pengakuan.
Setiap tawa renyah yang bukan untuk leluconku, setiap tatapan antusias yang bukan kepadaku, menjadi penguat narasi internal tentang ketidakberhargaan. Dalam keheningan ini, aku terpecah antara "aku" yang sesungguhnya dan "aku yang lain", yang terus mencari validasi eksternal untuk merasa lengkap.
Keadaan ini adalah titik terendah, sebuah lembah sunyi di mana harga diri seolah menjadi komoditas langka yang hanya bisa didapatkan melalui persetujuan orang lain.
Memicu Percikan Perubahan
Titik balik sering kali tidak dramatis, melainkan sebuah realisasi yang tenang namun kuat. Aku menyadari bahwa terus-menerus mencari harga diri dari luar sama halnya dengan menuang air ke dalam bejana bocor; kepuasan itu hanya sementara.
Perubahan harus datang dari dalam. Langkah pertama dalam perjalanan ini adalah mengenali dan menerima emosi yang muncul—kemarahan, kesedihan, dan rasa frustrasi karena merasa tidak dihargai.
Mengakui perasaan ini, alih-alih menekannya, adalah bentuk awal dari self-care atau merawat diri sendiri. Proses ini membutuhkan waktu dan usaha yang konsisten. Aku mulai dengan menantang pola pikir negatif dan menggantinya dengan afirmasi positif, sebuah praktik yang sangat penting dalam meningkatkan self-esteem.
Daripada berfokus pada apa yang orang lain pikirkan, aku mulai fokus pada apa yang dapat aku kendalikan: reaksiku, usahaku, dan yang terpenting, definisiku tentang nilai diriku sendiri.
Saya belajar untuk memaafkan diri sendiri atas keraguan masa lalu dan menghargai kualitas positif yang kumiliki.
Perasaan diabaikan dan ditolak tumbuh subur dalam diriku. Aku mulai meragukan nilaiku sendiri, mempertanyakan apakah aku layak mendapatkan kebahagiaan atau bahkan sekadar rasa hormat.
Setiap kritik terasa seperti pukulan, memperkuat keyakinan bahwa aku memang tidak berarti.
Namun, di tengah keraguan yang menghimpit, sebuah percikan kecil muncul. Sebuah keinginan untuk membuktikan bahwa mereka salah, terutama pada diriku sendiri. Aku mulai fokus pada pengembangan diri, mencari kekuatan dari dalam, bukan dari validasi eksternal.
Proses ini tidak mudah. Ada air mata, amarah, dan rasa sakit karena merasa dicampakkan. Tetapi secara bertahap, melalui refleksi diri dan penguatan hubungan internal dengan makna tujuan hidup, aku mulai menemukan kembali harga diriku.
Aku belajar untuk tidak mendengarkan suara-suara yang meremehkan, melainkan mendengarkan suara hati yang mengatakan bahwa aku berharga, terlepas dari apa pun kata orang lain.
Kini, aku tidak lagi terikat oleh opini lingkungan. Aku adalah "Aku" yang telah menemukan kembali harga diri di tengah keraguan, siap menghadapi dunia dengan kepala tegak, dan membuktikan bahwa keteguhan hati dapat mengalahkan prasangka.
Menemukan Kembali "Aku" yang Berharga
Perjalanan menemukan kembali harga diri ini berpuncak pada tindakan nyata. Aku mulai menetapkan batasan yang sehat dalam hubungan, menolak untuk terlibat dalam interaksi yang meremehkan, dan memilih bergaul dengan orang-orang suportif yang membangun, bukan menjatuhkan.
Saya menemukan kembali hobi dan minat yang memberikan rasa pencapaian, melakukan hal-hal yang disukai untuk menumbuhkan rasa cinta pada diri sendiri (self-love).
Esai ini, pada akhirnya, adalah tentang "aku" yang bertransformasi dari korban pengabaian menjadi agen perubahan bagi diriku sendiri. Harga diri bukanlah sesuatu yang diberikan, melainkan sesuatu yang dibangun dan dipelihara secara internal.
Di tengah keraguan yang mungkin masih sesekali muncul, kini aku memiliki fondasi yang kuat, berakar pada kesadaran diri dan penerimaan utuh terhadap kelebihan dan kekurangan diri.
Proses ini mengajarkan bahwa nilai intrinsik seseorang tidak berkurang hanya karena orang lain mengabaikannya. "Aku" yang terabaikan telah menemukan kembali suaranya, berdiri teguh dengan martabat yang utuh dan keyakinan bahwa setiap individu, termasuk diriku, berhak untuk diakui dan dihargai. (AS)

Posting Komentar