Langkah yang Dituntun Doa dan Pengorbanan
Oleh: Beti Olivia Lovita: Mahasiswa Prodi S-1 Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI
Dharmasraya, -- Aku adalah anak terakhir dari empat bersaudara. Sejak menginjak bangku SMA, aku memiliki cita-cita besar: kuliah di Universitas Jambi. Aku ingin belajar di sana, mengenakan almamater kebanggaan itu, dan membuat kedua orang tuaku bangga.
Setiap kali melewati kampus itu, aku selalu berbisik dalam hati, “Suatu hari nanti, aku akan kuliah di sini.” Namun, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Pada tanggal 1 April, ayah jatuh sakit dan harus dibawa ke RS Permata Hati Bungo.
Saat itu, suasana rumah dipenuhi kecemasan. Kami semua khawatir karena ayah terlihat sangat lemah. Setelah diperiksa oleh dokter, ternyata ayah mengidap penyakit prostat dan harus dirawat inap selama tiga hari, hingga 3 April.
Setelah diperbolehkan pulang, ayah masih harus menjalani kontrol rutin di rumah sakit. Kami berharap keadaannya membaik, tetapi ternyata kondisi ayah justru memburuk. Akhirnya dokter menyarankan agar ayah segera menjalani operasi di RS Raden Mattaher Jambi.
Tanggal 23 April, ayah berangkat ke Jambi bersama ibu, aku, dan abang no duaku. Kami menginap di rumah saudara ibu. Keesokan harinya, 24 April, mereka pergi ke rumah sakit untuk mendaftar operasi.
Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tubuh ayah belum cukup kuat, sehingga operasi harus ditunda sampai kondisinya stabil. Di saat ayah masih berjuang dengan penyakitnya, aku harus menghadiri acara perpisahan sekolah pada 3 Mei.
Seharusnya hari itu menjadi hari yang penuh kebahagiaan, tetapi bagiku terasa begitu sepi. Ayah tidak bisa hadir karena harus pergi ke rumah sakit bersama abangku untuk memeriksa jadwal operasinya. Aku hanya ditemani ibu dan sepupuku di acara itu.
Saat teman-temanku tersenyum dan berfoto bersama orang tua mereka, aku menatap kosong ke depan. Dalam hati, aku berbisik, “Andai ayah bisa di sini.” Setelah itu kami menerima kabar bahwa ayah sudah diperbolehkan menjalani operasi pada 5 Mei.
Sehari sebelumnya, ayah harus menginap di rumah sakit dan mulai berpuasa malam itu. Ibu langsung menelepon kakak pertamaku agar segera datang ke Jambi untuk menemani ayah.
Kakak ketigaku tidak bisa ikut karena tidak mendapat izin cuti dari tempat kerja. Aku ikut menjaga ayah bersama kakak pertamaku dan suaminya. Malam di rumah sakit terasa panjang. Setiap suara langkah perawat membuat jantungku berdebar.
Ibu sempat pulang ke rumah saudara karena kondisi tubuhnya juga tidak begitu baik. Namun, pagi-pagi sekali ia datang lagi bersama abangku dan ponaanku untuk menunggu di depan ruang operasi.
Kami menunggu sejak pukul sembilan pagi hingga pukul satu siang dengan perasaan tegang dan harap-harap cemas. Akhirnya, dokter keluar dari ruang operasi sambil tersenyum. “Operasi berjalan lancar,” katanya.
Air mata langsung mengalir di pipiku. Semua rasa takut berubah menjadi syukur. Aku menatap wajah ibu yang juga berlinang air mata, lalu kami saling berpelukan erat.
Setelah operasi selesai, kakak pertamaku harus pulang ke kampung bersama suaminya karena pekerjaan. Aku pun ikut pulang ke rumah saudara ibu di Jambi, sementara ibu dan abangku tetap di rumah sakit untuk menjaga ayah.
Tiga hari kemudian, ayah diperbolehkan pulang. Namun, karena jarak dari Jambi ke kampung cukup jauh, ayah dan ibu memutuskan untuk beristirahat sementara di rumah saudara di Jambi. Aku dan abang pulang lebih dulu ke kampung.
Seminggu kemudian, aku kembali ke Jambi bersama abang, istrinya, dan keponakanku untuk menjemput ayah dan ibu. Sebelum pulang, ayah melakukan kontrol terakhir di RS Raden Mattaher. Wajahnya tampak lebih cerah, meski masih terlihat lemah.
Aku bersyukur melihat ayah mulai membaik sedikit demi sedikit. Namun, di tengah semua itu, ada satu hal yang terus menggangguku. Aku mulai berpikir untuk tidak kuliah dulu tahun ini. Aku tahu, biaya yang seharusnya digunakan untuk pendidikanku sudah habis untuk biaya operasi dan pengobatan ayah.
Aku tidak tega menambah beban keluarga. Tetapi ayah, ibu, dan kakak ketigaku justru mendorongku untuk tetap kuliah tahun ini. Sementara kakak pertama dan abangku memilih menunda kuliah sampai tahun depan, aku berusaha menuruti permintaan orang tuaku.
Aku memang sudah diterima di Universitas Islam Negeri Jambi lewat jalur SPAN-PTKIN, tetapi bukan di jurusan yang kuinginkan. Aku juga mengikuti seleksi SNBP di Universitas Jambi, namun belum berhasil.
Dalam kebimbangan itu, kakak pertamaku menyarankan agar aku mendaftar ke Universitas Dharmas Indonesia. Setelah berdiskusi dengan keluarga, aku akhirnya memutuskan untuk kuliah di sana.
Bukan karena menyerah, tapi karena aku yakin setiap langkah yang disertai doa akan membawa berkah. Kini, setiap kali aku duduk di ruang kuliah, aku selalu mengingat perjuangan ayah di ranjang rumah sakit, senyum ibu yang menahan lelah, dan dukungan saudara-saudaraku yang rela menunda mimpi mereka demi aku.
Aku belajar lebih giat bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk mereka semua yang telah berkorban. Setiap langkahku adalah doa yang hidup dari hati seorang ayah dan ibu yang penuh kasih. (AS)

Posting Komentar