Menghadapi Berbagai Masalah Etik Dalam Praktik Keperawatan di Era Modern
Oleh: Lili Rusdianti: Mahasiswa Prodi S-1 Keperawatan FIKES UNDHARI
Dharmasraya,-- Kehadiran teknologi digital, kecerdasan buatan, hingga media sosial telah mengubah wajah praktik keperawatan secara drastis. Namun, di balik kemajuan yang serba instan ini, perawat justru dihadapkan pada tantangan etik yang jauh lebih rumit dibandingkan dekade sebelumnya.
Jika dulu masalah etik mungkin hanya berkisar pada hubungan pasien dan perawat di bangsal, kini masalah tersebut merambah ke ruang digital dan ranah privasi data yang sangat sensitif. Salah satu masalah etik yang paling menonjol di era modern adalah pergeseran fokus dari pasien ke layar monitor.
Saat ini, banyak perawat yang menghabiskan waktu lebih banyak di depan sistem dokumentasi elektronik daripada di samping tempat tidur pasien. Di sinilah muncul dilema etik mengenai prinsip beneficence atau berbuat baik. Apakah perawat masih memberikan asuhan yang berpusat pada manusia jika perhatiannya terbagi oleh tuntutan administratif digital?
Teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan penghalang interaksi. Tantangan etik bagi perawat modern adalah memastikan bahwa penggunaan teknologi tidak mengurangi martabat pasien sebagai manusia.
Pasien tetap membutuhkan empati, sentuhan, dan kehadiran emosional perawat yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh algoritma komputer mana pun. Masalah etik kedua yang sering muncul adalah terkait penggunaan media sosial. Di era "berbagi segalanya," banyak tenaga kesehatan yang tanpa sengaja melanggar prinsip kerahasiaan (confidentiality).
Membuat konten edukasi memang baik, namun sering kali batas antara berbagi informasi dan mengeksploitasi privasi pasien menjadi kabur. Mengambil foto di lingkungan rumah sakit dengan latar belakang pasien yang tidak tersamar sempurna, atau sekadar menceritakan kasus unik di media sosial tanpa izin, adalah pelanggaran etik yang serius.
Perawat modern dituntut untuk memiliki kesadaran digital yang tinggi. Mereka harus paham bahwa privasi pasien adalah hak absolut yang tidak boleh dikorbankan demi "engagement" atau popularitas di dunia maya.
Menjaga kerahasiaan di era digital membutuhkan disiplin diri yang jauh lebih besar daripada sebelumnya. Kemajuan teknologi medis juga memungkinkan manusia untuk bertahan hidup lebih lama dengan bantuan alat.
Hal ini memicu masalah etik terkait "futility of care" atau tindakan medis yang sia-sia. Perawat sering berada di tengah konflik antara keinginan keluarga yang ingin mempertahankan kehidupan pasien dengan segala cara, melawan kondisi klinis pasien yang sebenarnya sudah tidak memiliki harapan sembuh.
Dalam situasi ini, perawat sering mengalami moral distress atau tekanan batin. Di satu sisi, mereka harus patuh pada instruksi medis; di sisi lain, nurani mereka merasa bahwa memperpanjang penderitaan pasien dengan alat bantu tanpa tujuan yang jelas adalah pelanggaran terhadap prinsip non-maleficence (tidak merugikan).
Menyuarakan hak pasien untuk "mati dengan bermartabat" di tengah sistem medis yang agresif adalah tantangan etik yang sangat berat bagi perawat saat ini. Era modern juga membawa kesenjangan ekonomi yang semakin lebar, yang berdampak pada akses layanan kesehatan.
Perawat sering kali melihat sendiri bagaimana perbedaan kualitas pelayanan antara pasien yang memiliki asuransi premium dengan pasien subsidi. Secara etik, perawat terikat pada prinsip justice atau keadilan, di mana setiap orang berhak mendapatkan standar perawatan yang sama.
Masalah etik muncul ketika sumber daya di rumah sakit terbatas. Siapa yang harus diprioritaskan? Bagaimana perawat mengelola rasa tidak adil saat melihat pasien yang sangat membutuhkan bantuan terhambat oleh birokrasi biaya?
Perawat modern dituntut untuk menjadi advokat bagi pasiennya, memastikan bahwa meskipun sistem mungkin tidak adil, pelayanan yang mereka berikan tetap setara dan tidak diskriminatif. Menjadi perawat di era modern bukan hanya tentang penguasaan alat-alat canggih, melainkan tentang keteguhan hati dalam menjaga prinsip moral.
Bagaimana perawat menempatkan teknologi tersebut di bawah kendali etika kemanusiaan. Perawat harus tetap menjadi "suara" bagi pasien di tengah kebisingan mesin dan sistem digital. Integritas moral yang akan membedakan perawat profesional dengan robot pelayan kesehatan di masa depan.
Selain masalah teknologi, perawat di zaman sekarang juga punya tantangan besar dalam berkomunikasi. Saat ini, banyak pasien yang mudah terpapar informasi kesehatan yang belum tentu benar dari internet.
Di sinilah peran etik perawat diuji untuk menjadi sumber informasi yang jujur dan tepercaya. Kita harus mampu menjelaskan kondisi medis dengan bahasa yang sederhana tanpa mengurangi rasa hormat. Memberikan pemahaman yang jelas kepada pasien bukan hanya soal komunikasi, tetapi juga bentuk pemenuhan hak pasien untuk mengetahui kondisi tubuhnya secara benar.
Selain itu, perawat juga harus sadar bahwa menjaga kesehatan diri sendiri adalah bagian dari tanggung jawab etik. Kita tidak mungkin bisa merawat orang lain dengan optimal jika kondisi fisik dan mental kita sendiri sedang tidak stabil.
Kelelahan yang berlebihan bisa memicu kelalaian yang membahayakan keselamatan pasien. Oleh karena itu, beristirahat yang cukup dan menjaga keseimbangan hidup bukanlah tindakan egois, melainkan keharusan agar kita tetap bisa memberikan pelayanan yang aman, teliti, dan penuh empati setiap harinya.
Satu hal lagi yang sangat penting dalam etika keperawatan modern adalah menjaga hubungan baik dengan rekan sejawat dan tenaga medis lainnya. Di rumah sakit, perawat tidak bekerja sendirian.
Kita harus berkolaborasi dengan dokter, apoteker, ahli gizi, dan tenaga kesehatan lainnya. Masalah etik sering muncul jika komunikasi antar-tim tidak berjalan dengan sehat, misalnya karena rasa egois atau kurangnya rasa hormat.
Padahal, tujuan utama kita semua sama, yaitu kesembuhan pasien. Perawat yang etis adalah mereka yang berani memberikan masukan jika melihat ada hal yang kurang tepat, namun menyampaikannya dengan cara yang sopan dan profesional.
Selain itu, menciptakan lingkungan kerja yang saling mendukung juga bagian dari komitmen etik. Etika dalam keperawatan bukan hanya soal bagaimana kita bersikap di depan pasien, tetapi juga bagaimana kita membangun kerja sama yang jujur dan tulus dengan semua orang yang terlibat dalam tim kesehatan. (AS)

Posting Komentar