Gen Z di Era Media Sosial: Bebas Berekspresi, Tetapi Jangan Kehilangan Diri
Oleh: Nur Suci Padliani: Mahasiswa Prodi S-1 Manajemen FHEB UNDHARI
Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, terutama bagi Generasi Z. Generasi ini tumbuh di tengah kemajuan internet dan media sosial yang sangat mudah diakses.
Media sosial kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi ruang ekspresi, pembentukan identitas diri, serta sumber informasi dan hiburan. Kehadirannya memberikan banyak manfaat, namun juga menimbulkan tantangan yang perlu disikapi secara bijak.
Kalau ditanya apa yang paling dekat dengan kehidupan Gen Z, jawabannya hampir pasti media sosial. Bangun tidur yang dicek bukan jendela kamar, tapi notifikasi HP. Sebelum tidur, bukan doa yang diingat pertama kali, tapi scroll TikTok “lima menit” yang ujung-ujungnya jadi satu jam.
Media sosial sudah seperti dunia kedua bagi Gen Z, tempat berbagi cerita, mencari hiburan, sampai membentuk identitas diri. Di satu sisi, media sosial memberi banyak ruang kebebasan. Gen Z bisa jadi siapa saja dan mengekspresikan apa saja.
Mau pamer karya, curhat, joget, bahas isu sosial, atau sekadar shitpost—semuanya ada tempatnya. Banyak anak muda yang akhirnya menemukan passion dan peluang dari media sosial. Ada yang mulai usaha kecil lewat Instagram, ada yang dikenal karena konten edukasi di TikTok, bahkan ada yang bisa bantu ekonomi keluarga dari konten digital.
Dari sini terlihat jelas bahwa media sosial bukan cuma soal hiburan, tapi juga bisa jadi alat pengembangan diri. Namun, di balik semua kebebasan itu, ada sisi lain yang sering tidak disadari. Media sosial juga menjadi ruang perbandingan yang kejam.
Timeline penuh dengan pencapaian orang lain: liburan, body goals, karier cemerlang, hubungan yang terlihat sempurna. Tanpa sadar, Gen Z jadi sering membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain yang sebenarnya cuma potongan terbaiknya saja.
Dari sini muncul rasa “kok hidup gue gini-gini aja?”, lalu pelan-pelan muncul overthinking dan rasa tidak cukup. Fenomena FOMO (fear of missing out) juga semakin terasa di kalangan Gen Z.
Takut ketinggalan tren, takut nggak update, takut dianggap nggak gaul. Akhirnya, banyak yang memaksakan diri untuk selalu ikut arus, meski sebenarnya capek. Ironisnya, media sosial yang awalnya jadi tempat hiburan malah berubah jadi sumber tekanan mental.
Like, views, dan followers seolah jadi standar nilai diri, padahal angka-angka itu tidak selalu mencerminkan kualitas seseorang. Menurut saya, masalah utama bukan terletak pada media sosialnya, tapi pada cara kita menggunakannya.
Media sosial hanyalah alat, bukan penentu harga diri. Kalau digunakan dengan sadar, media sosial bisa jadi ruang belajar dan bertumbuh. Tapi kalau digunakan tanpa kontrol, justru bisa menguras energi dan merusak kesehatan mental.
Sayangnya, kesadaran ini belum sepenuhnya dimiliki oleh banyak Gen Z. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah literasi digital. Gen Z memang dikenal melek teknologi, tapi belum tentu melek secara emosional dan kritis.
Banyak informasi yang beredar di media sosial tidak semuanya benar. Hoaks, standar hidup palsu, dan budaya pamer bisa dengan mudah memengaruhi cara berpikir. Tanpa sikap kritis, Gen Z bisa terjebak dalam pola hidup yang tidak sehat, baik secara mental maupun sosial.
Selain itu, Gen Z juga perlu belajar membedakan antara dunia maya dan dunia nyata. Apa yang viral belum tentu penting. Apa yang terlihat sempurna belum tentu bahagia. Banyak orang terlihat “sukses” di media sosial, tapi tidak menunjukkan proses, kegagalan, dan perjuangannya.
Jika Gen Z terus membandingkan hidupnya dengan tampilan luar orang lain, rasa puas terhadap diri sendiri akan semakin sulit didapatkan. Di sisi lain, media sosial sebenarnya juga bisa jadi sarana refleksi dan perubahan positif.
Banyak isu penting seperti kesehatan mental, kesetaraan, dan self-love yang mulai dibicarakan secara terbuka. Ini menunjukkan bahwa media sosial juga bisa menjadi ruang edukasi dan solidaritas, asal digunakan dengan tujuan yang jelas.
Gen Z punya potensi besar untuk menjadikan media sosial sebagai alat perubahan, bukan sekadar tempat mencari validasi. Yang tidak kalah penting, Gen Z perlu belajar untuk sesekali “offline”. Bukan berarti anti media sosial, tapi memberi jeda agar tidak terus-menerus terpapar tekanan digital.
Menikmati hidup secara langsung, ngobrol tatap muka, dan fokus pada perkembangan diri sendiri bisa membantu menjaga keseimbangan. Hidup tidak harus selalu diabadikan, karena tidak semua momen harus divalidasi oleh orang lain.
Kesimpulan Media sosial adalah bagian dari kehidupan Gen Z yang tidak bisa dipisahkan. Ia bisa menjadi ruang berekspresi, belajar, dan berkembang, tapi juga bisa menjadi sumber tekanan jika digunakan tanpa kesadaran.
Gen Z perlu memahami bahwa media sosial hanyalah alat, bukan standar kebahagiaan atau ukuran kesuksesan. Dengan sikap bijak, kritis, dan seimbang, media sosial dapat dimanfaatkan secara positif tanpa membuat kita kehilangan jati diri. Pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa menarik hidup kita di layar, tetapi seberapa bermakna hidup yang kita jalani di dunia. (AS)

Posting Komentar