Bahasa sebagai Cermin Diri: Etika Bertutur
Oleh: Dwi Yuliana Putri: Mahasiswa S-1 Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Undhari
Dharmasraya, -- Bahasa merupakan salah satu unsur terpenting dalam kehidupan manusia. Melalui bahasa, manusia dapat menyampaikan pikiran, perasaan, gagasan, serta menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Namun, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi semata. Lebih dari itu, bahasa menjadi cermin diri yang merefleksikan kepribadian, sikap, cara berpikir, dan nilai moral seseorang. Oleh karena itu, penggunaan bahasa yang baik dan bijaksana sangat penting, terutama dalam kehidupan bermasyarakat yang penuh perbedaan.
Cara seseorang berbicara sering kali menjadi penilaian awal bagi orang lain. Pilihan kata, intonasi, serta cara penyampaian pesan dapat menunjukkan tingkat pendidikan, kematangan emosi, dan karakter seseorang. Bahasa yang santun dan penuh penghargaan mencerminkan pribadi yang beretika dan berempati, sedangkan bahasa yang kasar, merendahkan, atau penuh amarah mencerminkan sikap yang kurang bijaksana. Inilah sebabnya mengapa bahasa disebut sebagai cermin diri, karena dari bahasa,orang lain dapat menilai siapa kita sebenarnya.
Kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa. Kata-kata yang baik dapat memberikan semangat, menenangkan hati, serta membangun hubungan yang harmonis. Sebuah pujian sederhana dapat meningkatkan percaya diri seseorang, sementara kata-kata penyemangat dapat menjadi sumber kekuatan bagi orang yang sedang terpuruk. Sebaliknya, kata-kata yang negatif dapat melukai perasaan, Keruntuhkan kepercayaan diri, bahkan meninggalkan luka batin yang mendalam. Tidak jarang seseorang mengingat ucapan menyakitkan lebih lama dibandingkan perbuatan buruk yang diterimanya.
Berhati-hati dalam berbahasa berarti menyadari bahwa setiap ucapan memiliki dampak. Banyak konflik, baik dalam lingkungan keluarga, pertemanan, maupun masyarakat, bermula dari kesalahan dalam bertutur kata. Ucapan yang disampaikan tanpa dipikirkan terlebih dahulu, terutama saat emosi sedang memuncak, sering kali berujung pada penyesalan. Sekali kata-kata terucap, kita tidak dapat menariknya kembali. Oleh karena itu, kemampuan untuk mengendalikan diri saat berpikir sebelum berbicara merupakan sikap yang sangat penting dalam menjaga hubungan sosial.
Bahasa juga mencerminkan cara berpikir seseorang. Orang yang terbiasa berbicara kasar, meremehkan, atau menyindir orang lain biasanya dianggap tidak mampu mengendalikan emosi. Sebaliknya, orang yang berbicara dengan sopan, tenang, dan penuh pertimbangan sering kali dipandang lebih dewasa dan bijaksana. Tanpa disadari, pilihan kata yang kita gunakan membentuk citra diri kita di mata orang lain. Bahkan sebelum orang mengenal kita lebih jauh, cara kita berbicara sudah lebih dulu memberi Kesan.
Di era media sosial seperti sekarang, bahasa memiliki peran yang jauh lebih besar. Media sosial memberi kebebasan kepada siapa saja untuk berpendapat. Sayangnya, kebebasan ini sering disalahgunakan. Banyak orang dengan mudah menulis komentar kasar, menghina, atau menyebarkan kebencian tanpa memikirkan dampaknya. Mereka merasa aman karena tidak berbicara langsung. Padahal, kata-kata di dunia digital bisa menyebar luas dan bertahan lama. Satu komentar buruk bisa memengaruhi mental seseorang dan merusak hubungan sosial.
Selain berdampak pada orang lain, bahasa juga berpengaruh pada diri kita sendiri. Cara kita berbicara kepada orang lain sering kali mencerminkan cara kita berbicara kepada diri sendiri. Jika kita terbiasa menggunakan kata-kata negatif, marah, dan penuh keluhan, lama-kelamaan pola pikir kita juga akan dipenuhi hal-hal negatif. Sebaliknya, jika kita membiasakan diri menggunakan kata-kata yang baik dan membangun, pikiran kita pun akan lebih positif. Dengan kata lain, bahasa tidak hanya mencerminkan diri kita, tetapi juga membentuk diri kita.
Berhati-hati dengan kata-kata bukan berarti kita harus selalu diam atau takut berbicara. Kita tetap boleh jujur, menyampaikan pendapat, bahkan mengkritik. Namun, semua itu perlu disampaikan dengan bahasa yang tepat. Kritik yang disampaikan dengan kata-kata kasar hanya akan memancing konflik. Sebaliknya, kritik yang disampaikan dengan bahasa yang sopan dan jelas justru lebih mudah diterima. Ini menunjukkan bahwa kita mampu menyampaikan pendapat tanpa merendahkan orang lain.
Dalam kehidupan bermasyarakat, kemampuan berbahasa dengan baik sangat penting. Bahasa yang santun membantu kita membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Orang akan lebih nyaman berkomunikasi dengan kita jika kita bisa menjaga ucapan. Hal ini juga akan membuka banyak peluang, baik dalam pertemanan, pendidikan, maupun masa depan. Sikap yang tercermin dari bahasa sering kali menjadi penilaian utama seseorang terhadap diri kita.
Pada akhirnya, bahasa adalah cermin diri yang tidak bisa kita hindari. Dari kata-kata yang kita ucapkan, orang lain bisa melihat nilai, sikap, dan karakter kita. Oleh karena itu, berhati-hati dalam berbahasa bukanlah hal yang berlebihan, melainkan sebuah kebutuhan. Dengan menjaga kata-kata, kita menunjukkan bahwa kita adalah pribadi yang menghargai orang lain dan bertanggung jawab atas apa yang kita ucapkan. Jika kita ingin dihargai, maka mulailah dengan menghargai orang lain melalui bahasa yang kita gunakan. (AS)

Posting Komentar