Menurunnya Penggunaan Bahasa Indonesia di Kalangan Gen-Z
Oleh: Luna Vadila: Mahasiswa Prodi D3 Kebidanan FIKES UNDHARI
Dharmasraya, -- Bahasa Indonesia, sebagai bahasa resmi negara, berfungsi sebagai simbol persatuan dan identitas nasional serta bahasa pendidikan. Karena digunakan di semua sektor resmi termasuk pemerintahan, pendidikan, dan tempat kerja, posisinya sangat penting.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, terdapat kecenderungan penurunan dalam penggunaan yang tepat dan benar terhadap Bahasa Indonesia, terutama di kalangan Generasi Z, generasi yang tumbuh di era digital.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memiliki dampak yang signifikan terhadap lingkungan di mana Generasi Z Indonesia hidup. Menurut survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyedia Layanan Internet Indonesia (APJII), lebih dari 78% penduduk Indonesia memiliki akses internet pada tahun 2023, dengan kelompok usia muda termasuk Generasi Z menjadi mayoritas pengguna.
Media sosial kini menjadi wadah utama untuk interaksi sosial dan pembentukan kebiasaan bahasa di kalangan muda akibat meningkatnya intensitas penggunaan internet. Metode komunikasi yang cepat, ringkas, dan ekspresif dipromosikan oleh platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan X.
Bahasa gaul, bahasa singkatan, dan perpaduan bahasa asing dianggap lebih berguna dan relevan dalam konteks ini. Menurut penelitian oleh Julaika, bahasa non-standar sering digunakan dalam konten media sosial karena dianggap lebih menarik perhatian dan efektif dalam meningkatkan keterlibatan pengguna.
Karena masalah ini, bahasa Indonesia baku semakin jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari Generasi Z. Bahasa gaul kini digunakan tidak hanya dalam konteks informal, tetapi juga dalam konteks akademik dan semi-formal.
Menurut penelitian oleh Siregar dkk., kemampuan Generasi Z untuk menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan norma linguistik yang diterima secara signifikan terpengaruh oleh penggunaan bahasa gaul yang berlebihan.
Menurut pendapat saya, Bahasa gaul itu sendiri bukanlah penyebab utama dari fenomena ini. Bahasa gaul adalah hal yang tak terhindarkan karena merupakan bagian dari dinamika dan kreativitas bahasa. Masalah muncul ketika anggota Generasi Z tidak menyadari konteks linguistik sehingga sulit bagi mereka untuk membedakan penggunaan bahasa yang tepat berdasarkan konteks komunikasi.
Bahasa non-standar masih sering digunakan oleh mahasiswa Indonesia dalam makalah akademik, laporan laboratorium, dan surat resmi dengan dosen. Hal ini sejalan dengan temuan Wisman pada tahun 2024, yang menyatakan bahwa ketidakmampuan mahasiswa dalam memilih bahasa standar dan menyusun kalimat yang koheren dipengaruhi oleh kebiasaan mereka menggunakan Bahasa gaul.
Penurunan kualitas penggunaan bahasa Indonesia sebagian besar disebabkan oleh budaya literasi yang buruk selain dampak media sosial. Menurut penelitian oleh Amalyah dkk., ketidakmampuan dalam penggunaan bahasa formal, termasuk penggunaan bahasa Indonesia baku, terkait dengan kurangnya minat generasi muda dalam membaca.
Generasi Z memiliki sedikit paparan terhadap pola bahasa Indonesia yang mengikuti konvensi yang diterima karena mereka tidak secara teratur membaca buku, artikel akademik, dan karya sastra. Kemampuan mereka untuk memahami kata-kata yang rumit, memilih bahasa yang sesuai, dan menciptakan paragraf yang kohesif pun menurun.
Dalam penelitian Susilawati, remaja kesulitan membedakan antara bahasa formal dan informal ketika mereka tidak terpapar pada bahasa standar dalam kehidupan sehari-hari. Pola penggunaan bahasa Generasi Z juga dipengaruhi oleh globalisasi, bahasa Inggris sering dianggap lebih modern, prestisius, dan berguna secara ekonomi.
Meskipun terdapat padanan kata dalam bahasa Indonesia, asumsi ini menyebabkan istilah asing sering digunakan tanpa upaya untuk mencari padanan kata yang sesuai. Dalam hasil penelitian Nisa, jika pendidikan bahasa yang tepat tidak diberikan, dominasi bahasa asing dalam komunikasi sehari-hari dapat mengikis kesadaran akan bahasa nasional.
Kemampuan berbahasa Indonesia baku yang lemah telah menjadi masalah utama dalam pendidikan tinggi di Indonesia. Menulis makalah akademik, laporan penelitian, dan tesis sesuai dengan norma bahasa Indonesia merupakan persyaratan bagi mahasiswa perguruan tinggi.
Namun, banyak mahasiswa mengalami kesulitan dalam menulis akademik karena mereka cenderung menggunakan bahasa informal sejak usia dini. Menurut penelitian Wisman, tulisan akademik mahasiswa Generasi Z masih sering mengandung masalah struktur kalimat dan penggunaan bahasa yang tidak baku.
Dampak jangka panjang dari penurunan kualitas penggunaan bahasa Indonesia terlihat baik di tempat kerja maupun di lingkungan akademik. Kemampuan berkomunikasi yang jelas, terstruktur, dan sesuai dengan norma sangat penting di tempat kerja.
Kemampuan bahasa formal yang lemah dapat membuat lulusan pendidikan tinggi kurang kompetitif. Namun, saya berpendapat bahwa masih ada ruang untuk perbaikan dalam kondisi ini. Alih-alih menolak bahasa Indonesia, Generasi Z adalah generasi yang mengalami perubahan linguistik yang cepat.
Akibatnya, strategi yang diterapkan harus kontekstual dan fleksibel. Menurut penelitian Muzaki dkk., media sosial memiliki potensi besar sebagai sarana untuk memperkuat penggunaan bahasa Indonesia yang tepat jika digunakan secara kreatif dan edukatif.
Bahasa Indonesia perlu dipromosikan melalui media yang langsung terhubung dengan kehidupan Generasi Z. Guru memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan bahasa siswa.
Dalam hal penggunaan bahasa Indonesia yang tepat dan benar baik dalam pembelajaran tatap muka maupun komunikasi online, guru dan dosen harus memberikan contoh yang baik.
Untuk membantu siswa terbiasa menggunakan bahasa Indonesia baku secara kontekstual, lembaga pendidikan juga perlu menetapkan prosedur akademik yang konsisten, seperti mengevaluasi karakteristik bahasa dalam setiap karya tulis.
Penurunan penggunaan bahasa Indonesia yang benar oleh Generasi Z menjadi masalah serius di era internet. Media sosial, tingkat literasi yang rendah, dan dominasi bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari semuanya berdampak pada masalah ini.
Namun, ancaman yang ditimbulkan oleh situasi ini tidaklah terlalu besar. Bahasa Indonesia dapat tetap berkelanjutan dan dihormati melalui pengembangan literasi, pengajaran bahasa yang adaptif, dan penggunaan media sosial sebagai alat pembelajaran.
Tanpa kehilangan identitas nasionalnya melalui bahasa, Generasi Z dapat menjadi global dan modern. (AS)

Posting Komentar